Kehidupan new normal telah dimulai sejak bulan Juni 2020, memunculkan harapan baru sekaligus kekhawatiran baru. Harapan baru agar Indonesia maupun dunia segera bangkit dan bersatu mengatasi krisis global ini melalui pendekatan teknologi dan memperhatikan standar protokol kesehatan. Namun, kekhawatiran baru tetap ada akan ancaman serangan gelombang kedua, krisis ekonomi, dan krisis anggaran yang dialami pemerintah, sehingga mau tidak mau harus segera diatasi dan ujung-ujungnya dibebankan kepada rakyat. Salah satunya sektor listrik nasional...
Seakan ingin menyambut dan memeriahkan new normal, tagihan listrik pelanggan bulan Juni 2020 mengalami kenaikan secara signifikan. Yang keterlaluan, ada rumah atau kantor kosong dibebankan tagihan listrik yang jumlahnya cukup besar. PLN sendiri ternyata menerapkan tagihan listrik minimal walaupun rumah atau kantor dalam keadaan tidak dipakai. Pemerintah sendiri dengan tegas menyatakan tidak ada kenaikan tarif listrik saat new normal. Jadi, kuncinya ada di pihak PLN yang terlihat tidak aktif dan transparan memberikan informasi yang jelas kepada pelanggannya dan tiba-tiba membebankan tagihan listrik. Kesannya menunggu komplain pelanggan...
Lalu, sebenarnya apa sih akar masalahnya?
1. Tidak ada pengecekan dari petugas pencatatan rekening listrik untuk bulan ini akibat terkendala PSBB, mengakibatkan terjadinya miskomunikasi dan tagihan listrik dihitung berdasarkan rata-rata tagihan 3 bulan sebelumnya. Kalau itu yang menjadi patokan, seharusnya tagihan listrik bulan Juni 2020 tidak naik secara signifikan dong?
2. Kekurangan pembayaran tagihan listrik bulan April 2020 (akibat keterbatasan petugas pencatatan saat PSBB) membuat tagihan dibebankan ke bulan Juni 2020
3. Saat PSBB, pemakaian listrik di rumah meningkat akibat work from home dan semua kegiatan yang menggunakan listrik terkonsentrasi di rumah. Memang ini membuat tagihan listrik akan meningkat, tapi seharusnya jumlahnya tidak terlalu signifikan. Maksimal Rp. 50 ribu masih bisa ditolerir. Ini kan naiknya lebih dari itu...
4. PLN rugi sekitar Rp. 38 triliun selama pandemi Covid-19, ditambah industri besar yang menjadi pelanggan potensialnya tutup sementara, sehingga dibutuhkan dana segar untuk menyelamatkan operasional PLN dengan membebankannya kepada pelanggan yang masih aktif. Namun, hal tersebut dibantah oleh Zulkifli Zaini, direktur utama PLN
5. PLN berutang sampai tembus Rp. 500 T😱, terutama akibat proyek listrik 35 ribu MW. Dengan utang yang sangat besar tersebut, mungkin saja PLN kebingungan, pemerintah angkat tangan, dan diam-diam dibebankan ke pelanggan walau kenaikan tarif listrik dibantah dirutnya
6. Adanya dugaan subsidi silang (pemerintah lepas tangan) untuk pelanggan 450 VA dan 900 VA. Semakin tinggi kebutuhan listrik pelanggan, maka semakin besar biaya subsidi silangnya. Hal tersebut lagi-lagi dibantah oleh dirut PLN.
Seakan ingin menyambut dan memeriahkan new normal, tagihan listrik pelanggan bulan Juni 2020 mengalami kenaikan secara signifikan. Yang keterlaluan, ada rumah atau kantor kosong dibebankan tagihan listrik yang jumlahnya cukup besar. PLN sendiri ternyata menerapkan tagihan listrik minimal walaupun rumah atau kantor dalam keadaan tidak dipakai. Pemerintah sendiri dengan tegas menyatakan tidak ada kenaikan tarif listrik saat new normal. Jadi, kuncinya ada di pihak PLN yang terlihat tidak aktif dan transparan memberikan informasi yang jelas kepada pelanggannya dan tiba-tiba membebankan tagihan listrik. Kesannya menunggu komplain pelanggan...
Lalu, sebenarnya apa sih akar masalahnya?
1. Tidak ada pengecekan dari petugas pencatatan rekening listrik untuk bulan ini akibat terkendala PSBB, mengakibatkan terjadinya miskomunikasi dan tagihan listrik dihitung berdasarkan rata-rata tagihan 3 bulan sebelumnya. Kalau itu yang menjadi patokan, seharusnya tagihan listrik bulan Juni 2020 tidak naik secara signifikan dong?
2. Kekurangan pembayaran tagihan listrik bulan April 2020 (akibat keterbatasan petugas pencatatan saat PSBB) membuat tagihan dibebankan ke bulan Juni 2020
3. Saat PSBB, pemakaian listrik di rumah meningkat akibat work from home dan semua kegiatan yang menggunakan listrik terkonsentrasi di rumah. Memang ini membuat tagihan listrik akan meningkat, tapi seharusnya jumlahnya tidak terlalu signifikan. Maksimal Rp. 50 ribu masih bisa ditolerir. Ini kan naiknya lebih dari itu...
4. PLN rugi sekitar Rp. 38 triliun selama pandemi Covid-19, ditambah industri besar yang menjadi pelanggan potensialnya tutup sementara, sehingga dibutuhkan dana segar untuk menyelamatkan operasional PLN dengan membebankannya kepada pelanggan yang masih aktif. Namun, hal tersebut dibantah oleh Zulkifli Zaini, direktur utama PLN
5. PLN berutang sampai tembus Rp. 500 T😱, terutama akibat proyek listrik 35 ribu MW. Dengan utang yang sangat besar tersebut, mungkin saja PLN kebingungan, pemerintah angkat tangan, dan diam-diam dibebankan ke pelanggan walau kenaikan tarif listrik dibantah dirutnya
6. Adanya dugaan subsidi silang (pemerintah lepas tangan) untuk pelanggan 450 VA dan 900 VA. Semakin tinggi kebutuhan listrik pelanggan, maka semakin besar biaya subsidi silangnya. Hal tersebut lagi-lagi dibantah oleh dirut PLN.
1. Komunikasi dari pihak PLN kepada pelanggan harus diperbaiki. Transparansi dan keterbukaan informasi, khususnya yang berkaitan dengan hak dan kewajiban pelanggan, serta apa yang terjadi dengan kinerja (khususnya keuangan) di tubuh PLN. Selama ini, komunikasi dan informasi cenderung sepihak dan kurang tersosialisasi dengan baik, baru ramai kalau sudah banyak yang komplain dari pelanggan. Dengan adanya kasus ini, kepercayaan publik terhadap PLN menurun
2. Informasi standar baku seperti besaran tagihan listrik minimal (ada atau tidak ada pemakaian) kurang tersosialisasi dengan baik. Kasus yang menimpa artis sekaligus dokter Tompi dan pelanggan lainnya menjadi pembelajaran. Di samping itu, opsi pengiriman foto kWh oleh pelanggan sendiri sama sekali tidak tersosialisasikan dengan baik
3. Sarana aduan melalui Call PLN 123 dan DM akun Twitter @pln_123 sebetulnya direspons dengan baik. Namun, terkadang tidak menyentuh akar masalah dan solusi terbaik, jadi sekedar formalitas, masalah umum, dan belum mendapatkan solusi terbaik
4. DPR harus lebih aktif dan ikut mengawal kinerja PLN, karena urusannya dengan hajat hidup rorang banyak. Tidak hanya sekedar memanggil dirut PLN dan meminta keterangan, tetapi juga menginvestigasi dan menindaklanjutinya dengan aksi nyata yang diharapkan rakyat. Jangan sampai dianggap sekedar formalitas saja. Solusi atas kinerja BPJS Kesehatan yang belum sesuai harapan rakyat setidaknya menjadi contoh
5. Tetap rajin mengirimkan foto meteran listrik ke PLN lewat WhatsApp setiap bulannya untuk mengantisipasi kenaikan listrik yang tidak terduga. Saya pun baru mencari info ini sendiri dan mulai mengirimkan foto meteran listrik ke PLN bulan Agustus 2020, dengan harapan tagihan listrik bulan September 2020 kembali turun
![]() |
Klik Gambar Agar Lebih Jelas |
6. Jika pelanggan tetap tidak puas dirugikan walau sudah kirim foto meteran listrik ke PLN, maka pelanggan bisa memanfaatkan jalur hukum dan mengadukannya, salah satunya lewat Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Menurut Tulus Abadi, Ketua Harian YLKI, komunikasi yang kurang dari pihak PLN bisa melanggar pasal 4 Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 199, di mana dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa konsumen berhak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur.
Semoga saja ada evaluasi terhadap kinerja PLN, lalu PLN lebih peka terhadap situasi yang ada, dan tagihan listrik pelanggan mulai bulan Juli 2020 kembali normal. Dan jangan lupa, tetap rutin mengirimkan foto meteran listrik ke PLN tiap bulannya😇.
Silakan mampir juga ke blog saya yang pertama (tentang hewan, hukum, inovasi, manajemen, & sepak bola), kedua (tentang, kesehatan dan kemanusiaan, full text english), dan keempat (tentang hewan peliharaan). Semoga bermanfaat. Thx. Berikut link-nya:
Blog 1: vickycahyagi.com
Blog 4: petsvic.blogspot.com
Oh, berarti benar adanya terdapat kenaikan tarif dasar listrik dikarenakan tidak adanya pencatatan data oleh petugas ke rumah.
BalasHapusIni terjadi juga dirumahku, mas.
Tidak ada pencatatan, berarti rata2 tagihan 3 bulan sebelumnya jadi patokan. Tapi, tetap saja banyak pelanggan yang tidak puasa karena naiknya keterlaluan
Hapus*puas
HapusHi good morning, how are you? Do you accept one following the other's blog? We can be friends (there is no distance for friendship) and partner with our blogs. https://viagenspelobrasilerio.blogspot.com/?m=1
BalasHapusGood morning. I just comment and follow on your blog
HapusYes the same over here, sadly. The only thing to decrease in price was petrol!!!!
BalasHapusWow. covid19 makes the government must be more careful in managing its budget. there is an opinion that the option to increase the cost to people is a form of government despair
HapusSeram juga terjadi pembengkakan listrik tanpa babibu menjadi mahal dari biasanya.
BalasHapusBenar, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, sepertinya ini kebiasaan buruk PLN. Tapi giliran tagihan disiplinnya minta ampun hehe..
HapusAlhamdulillah saya tidak mengalamibdampak tersebut, karena saya merasa pemakaian dan bayaran listrik tetap. Berharap semua bisa diatasi dan semua kembali seperti sedia kala
BalasHapusMemang ini hanya kasuistik, tidak semua kena. Tagihan naik memang sudah diprediksi, tapi ini naiknya keterlaluan
HapusSaya juga sebenernya deg-degan Pak setiap tanggal 1 untuk chek tagihan listrik. Memang saya akui adanya penambahan pemakaian karena lebih sering kami di rumah saja. Tapi kok ya menurut saya masih wajar. Bismillah tidak ada salah hitung atau salah tagih dari pihak PLN ya. Sudah terkena dampak covid, masih saja harus menanggung kesalahan hitung PLN. Astaghfirullah
BalasHapusSifatnya kasuistik jadi banyak yang naiknya wajar, tapi banyak juga yangg naiknya ga wajar. Ada kantor kosong kena tagihan minimal. PLN tetap harus dievaluasi agar lebih baik ke depannya
HapusIya bener tagihan listrik naik ya. Sy pikir krn pengaruh WFH aja.. ternyata ada dari sisi PLN juga toh
BalasHapusBetul, kinerja PLN ada kendala seperti petugas pencatatan meteran listrik, tapi ujung-ujungnya dibebankan ke pelanggan
HapusBahkan, tanpa pemakaian pun tetap kena tagihan
Hapusalhamdulillah di rumah harga listrik normal-normal aja meski stay at home, ga ada kenaikan yang signifikan, mungkin hal ini terjadi di daerah tertentu atau memang di kapasitas listrik berapa mungkin seperti itu ya ka?
BalasHapusMemang tidak semua. Tapi banyak juga pelanggan yang dirugikan, karena tarif naik keterlaluan. Kalau naik Rp. 50 ribu masih dimaklum, ini lebih. Bahkan kantor kosong tanpa pemakaian tetap terkena tarif minimal
HapusAlhamdulillah penggunaan listrik saya masih normal dan bayarnya kok rasanya tidak seberapa pengaruh. Saya pakai sistem kuota sih ya. Kisarannya mash 200-250 ribu
BalasHapusKalau naik Rp. 50 ribu masih wajar Bu, akibat pemakaian di rumah meningkat. Ini banyak kasus yang naiknya lebih dari itu, bahkan kantor kosong tanpa pemakaian listrik tetap terkena tarif minimal yang jumlahnya cukup besar
HapusNaik 100 ribu Itu keterlaluan juga. Sekaligus ajaib.
BalasHapusTenan saya biasanya bayar bulanan di bawah ,200 ribu Jadinya saya bingung bagaimana bisa ada yang sampai naik sebanyak Itu pada Pak Vicky.
Abnormal banget karena hanya rumah biasa dan bukan merangkap tempat usaha.
Semoga normal lagi.
Saya yang listrik pintar 450 kWh dengan uang 100 ribu rupiah bisa beli 5 kaii token listrik senilai 20 ribu rupiah. Untuk 4640 X 5.b
Semoga situasi tidak runyam lagi.
Memang kalau naiknya Rp. 50 ribu itu masih wajar. Ini kan lebih, ada dugaan kesalahan perhitungan tagihan bulan April atau Mei dibebankan secara diam2 ke tagihan bulan Juni. Kesalahan perhitungan dimungkinkan mengingat pegawai pencatatan PLN tidak bekerja optimal saat awal pandemi korona. Semoga Juli sudah kembali normal
HapusTernyata tagihan bulan Juli masih sama dengan Juni. Jadi memang ada yang tidak transparan kenaikan tarif listrik ini
Hapusnampaknya masalah yang sama di malaysia juga berlaku di sana. selepas 3 bulan PKP ramai gelisah bila melihat bil melambung naik. rumah saya juga tidak terkecuali. tapi alhamdulillah, pihak kerajaan ada beri subsidi so sekarang terpulang pada rakyat untuk menjelaskan bil elektrik
BalasHapusKorona membuat keuangan perusahaan listrik di sejumlah negara terganggu. Ga hanya di Indonesia, tapi juga di Malaysia ya. Jika angaran negara tekor, maka tidak ada subsidi, dan solusinya menaikkan tarif secara diam-diam
HapusIt is true, people during lockdown while working at home used more electricity but I am sorry to hear that the government didn't implemented anything to help people. In Italy where I live, for several months if not the entire year, the bill for electricity was downsized. It is not a great sum but even if we used more electicity, these past few months we paid in average from 10 to 20 euros less thanks to the measurements taken by the government.
BalasHapuswow, in your country the government subsidizes electricity bills which should increase when used at home. In Indonesia, the government is looking for ways for large power companies to lose money to the people under the pretext of increasing their use at home
HapusBulan kemarin memang banyak yang komplain karena tagihan listrik yang tidak biasanya atau naik tinggi. Biasanya tagihan bulan April Mei cuma 200 ribu, kok naik jadi 300 ribu padahal pemakaian listrik sama. Ada yang tidak beres nih.😂
BalasHapusDan kejadian Juni terulang lagi bulan Juli. Memang tarif listrik naik buat nutupin utang PLN, tapi dirutnya ga mau ngaku. Kalaupun naik aikbat dirumah aja, naik Rp 50 ribu masih dimaklum. Dagelan di negara ini yang mirip iuran BPJS Kesehatan.
HapusBetul, kalo naik cuma 50 ribu masih maklum biarpun sebenarnya 50 ribu juga banyak manfaatnya jika dalam keadaan krisis seperti ini.😏
HapusTagihan juli tetap tinggi, kacau new normal
BalasHapusIuran BPJS naik, tagihan PLN meningkat drastis, semoga bukan pertanda Indonesia resesi
HapusGracias por la información te mando un beso
BalasHapusbuena suerte y éxito para ti también
HapusGracias por la información te mando un beso
BalasHapusbuena suerte y éxito para ti también
Hapussaya setuju sekali, pihak PLN harusnya transparan sama masyarakat, biar masyarakat jadi gak pada komplen
BalasHapusAda yang seperti ditutup tutupi. Saya menangkap PLN punya utang besar tapi bingung melunasinya dalam kondisi seperti ini,jadinya tarif listrik naik walau pemerintah membantah tarif naik
Hapussemoga Corona virus ini cepat menghilang...
BalasHapusekonomi sudah jatuh teruk dan kesannya lebih teruk dari corona virus itu sendiri
Betul, Pandemi korona juga ikut memengaruhi keuangan PLN dan kondisi ekonomi masyarakat
HapusWah, sebelumnya saya mau mengomentari, kok tagihannya murmer nih, saya pakai yang 1300 kalau ga salah, sebulan habis sampai 500 dong hiks.
BalasHapusSampai akhirnya selama pandemi ini saya akali dengan mengurangi pemakaian listrik, tepatnya udah sejak Januari kayaknya, kami jarang pakai AC, dan anak-anak dari yang biang keringatan tiap hari, sampai udah bisa beradaptasi dikit-dikit :D
Sama akhirnya saya coba cuci pakaian pun kadang pakai tangan, hasilnya memang lumayan, pemakaian listrik lebih irit :D
Btw, banyak banget nih yang mengeluh naik sejak beberapa bulan belakangan ya, kebanyakan akhirnya berkomunikasi sama PLN biar lebih jelas :)
Wah ternyata lebih mahal ya padahal daya listriknya lebih rendah 1300. AC kamar juga saya pakai di waktu tertentu saja, misal malam hari (takut banyak nyamuk hehe..). AC juga termasuk penyumbang tarif listrik naik. Tapi sudah dihemat pun tarif listrik naik signifikan. Banyak yang berasumsi PLN sedang defisit akibat utang dan pandemi juga, ujung-ujungnya dibebankan ke pelanggan yang dianggap mampu. Tapi tetap ga mau ngaku tarif dinaikkan per kwh karena menjaga kewibawaan pemerintah yang menyatakan tahun ini listrik jangan naik dulu. Memang kurang transparan ini PLN, mirip BPJS Kesehatan
HapusTagihan listriknya besar juga ya pak.
BalasHapusSaya di rumah hanya sekitar 80rb, tapi 450 VA sih hehee
Itupun tagihan saya masih mending. Ada saudara rumah di Bekasi daya 1300 pake AV tagihan nembus Rp. 1 jutaan, biasanya Rp 700 ribu. Lebih gila lagi yang di kota besar, tapi transparansi PLN dipertanyakan
Hapuswaaah, besar sekali ya pak
HapusLagu dicoba pencatatan mandiri via whatsapp, semoga turun lagi tarif listriknya
Hapus
BalasHapusHai!
Saat kita dihadapkan pada harga tinggi, dalam banyak kesempatan kita menyalahkan pajak negara. Namun, hal ini tidak selalu terjadi. Terkadang bencana alam, dan seperti dalam kasus pandemi, harga menjadi terlalu tinggi. Saya juga membaca dalam sebuah artikel bahwa perusahaan listrik menggunakan trik hukum untuk membebankan biaya lebih banyak kepada kami untuk listrik. Di New York, kami memiliki tarif listrik perumahan rata-rata tertinggi di 48 negara bagian Amerika Serikat (17,62 ¢ / kWh).
Untungnya, harga akan segera naik lagi di negara Anda.
Salam.
Memang pandemi korona menjadi salah satu faktor, tapi PLN berutang jauh sebelum pandemi korona. Dan kondisi keuangan PLN semakin buruk walau direksinya tetap makmur. Kenaikan tarif secara diam-diam menjadi opsi padahal pemerintah sendiri sudah melarang kenaikan tarif. Masalahnya memang PLN tidak transparan. Bisa dikatakan listrik merupakan tagihan termahal bagi rakyat..
Hapuskami rutin jepret dan mengirim gambar seperti yang disarankan pihak PLN Alhamdulilah masih normal sih
BalasHapusBisa dicoba, karena saya baru melakukannya untuk tagihan air. Nah, info seperti ini kok PLN kurang sosialisasi ya. Thx infonya
HapusBiasanya cater (pencatat meter) selalu datang ke rumahku untuk mengambil foto kotak listrik. Jadi alhamdulillaah tagihan listrik baik2 aja dalam arti ga gede2an naik melambung tinggi. Itu yang subsidi rumah 450 W kira2 sampai kapan ya? Rumah ART-ku disubsidi biaya listriknya, kata dia, jadi free sementara ini.
BalasHapusKalau menurut info terbaru subsidi daya 450 V sampai September. Tagihan besar denger2 dibebankan secara bervariasi. Tagihan saya naik lebih dari 100 ribu masih mending, di kota besar, ada yang rumahnya lebih kecil dari saya tapi tagihannya nembus Rp. 1 juta...
Hapuslah terus protes ke siapa ini kita?
BalasHapusYa protes mendatangi pihak PLN terdekat. Memang penyelesaiannya kurang memuaskan tapi setidaknya ada informasi baru, seperti pelapora meter listrik mandiri agar tagihan tidak naik keterlaluan
Hapus