Tuesday, September 29, 2020

Pandemi: Mencari Kerja dan Solusi

Kali ini, blog listrikvic.blogspot.com mendapat penawaran kerja sama bisnis lewat email dari perusahaan Jooble , situs lowongan kerja online yang kekinian dan terpercaya. Dalam kaitannya dengan blog seputar kelistrikan ini, maka lowongan kerja yang ditawarkan berkaitan dengan bidang kelistrikan (klik Jooble link biru versi mobile atau link merah versi desktop). Semoga artikel ini bermanfaat🙏🏻.


Sejak akhir tahun 2019, dunia digemparkan dengan wabah penyakit yang dinamakan Covid-19 yang pengaruhnya sangat besar bagi perkembangan negara-negara di dunia. Dampak yang ditimbulkan bukan hanya dari segi kesehatan, tetapi juga dari segi ekonomi dan ketenagakerjaan. Menurut survei yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Litbang Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan dan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia selama periode 24 April sampai 2 Mei 2020 terhadap penduduk usia 15 tahun keatas, dengan jumlah responden yang terjaring sebanyak 2.160 responden yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia, dapat diprediksi 10 juta pengusaha mandiri. 


COVID-19 juga telah menimbulkan ketidakpastian dan perlambatan ekonomi bagi dunia usaha sehingga berujung pada PHK, perumahan karyawan maupun penyerapan tenaga kerja. Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia pada Q2 2020 mengonfirmasi hal ini. Indikator Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha pada Q2 2020 tumbuh minus 35,75% lebih buruk dari Q1 2020 yang minus 5,56%. Artinya kegiatan usaha jauh berkurang. 


COVID-19 terbukti menghambat kegiatan produksi dan memukul permintaan. SBT tenaga kerja tumbuh minus 22,35% di Q2 2020 memburuk dari Q1 2020 minus 1,13%. Pemburukan ini berarti ada pengurangan penggunaan tenaga kerja oleh pelaku usaha. Sejalan dengan itu, Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) mencatat jumlah pengangguran sudah bertambah sekitar 3,7 juta orang selama pandemi. Data BPS per Februari 2020 mencatat jumlah pengangguran sudah mencapai 6,88 juta orang. Dengan tambahan 3,7 juta itu, maka jumlah penganggur diperkirakan mencapai 10,58 juta orang. Kondisi ini sama buruknya pada angka pengangguran 2007 yang juga mencapai 10 juta orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 9,1%. Belum lagi jika memperhitungkan pekerja informal dan mandiri. Persaingan antara pencari kerja juga tidak bisa dipungkiri semakin menjadi-jadi. 


Selain menghadapi limpahan tenaga kerja dari pengangguran, Kemnaker mencatat tiap tahunnya ada 2 juta tenaga kerja baru yang perlu diakomodir. Wakil Ketua Umum bidang ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia Bob Azam mengatakan sekitar 80% pelaku usaha terdampak COVID-19 dan dari jumlah itu mengalami gangguan hingga 40-50% bisnisnya. Salah satu dampaknya, kata Bob, adalah mereka menghentikan perekrutan tenaga kerja. Kalau pun hari ini ada lowongan, ia bilang itu sebatas mengisi kekosongan saja. Misalnya akibat perusahaan yang kebablasan mem-PHK sehingga kekurangan tenaga kerja, regenerasi mereka yang pensiun, atau pekerjaan tersebut tergolong langka pasar tenaga kerjanya. 


Pandemi berimbas pada nasib jutaan pekerja yang dirumahkan dan di-PHK. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) per 27 Mei 2020, sebanyak 3.066.567 pekerja terdampak Covid-19 di-PHK maupun dirumahkan. Sedangkan menurut catatan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, hingga Juli 2020 ada lebih dari 6,4 juta pekerja yang di-PHK ataupun dirumahkan. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sebelum pandemi, tepatnya pada Februari 2020 penduduk bekerja menurut lapangan pekerjaan masih didominasi tiga lapangan kerja, yakni pertanian sebesar 29,04%, perdanganan sebesar 18,63%, dan industri pengolahan sebesar 14,09%. Sementara itu, lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase, jika dibandingkan dengan Februari 2019, yakni jasa pendidikan meningkat 0,24%, konstruksi meningkat 0,19%, dan jasa kesehatan meningkat 0,13%. BPS pun mencatat, pada Februari 2020 tingkat pengangguran terbuka (TPT) sekolah menengah kejuruan (SMK) paling tinggi dibandingkan tingkat pendidikan lainnya, yakni 8,49%. Sementara TPT terendah adalah jenjang pendidikan sekolah dasar (SD) ke bawah, yakni 2,64%. Di sisi lain, BPS yang melakukan analisis big data ketenagakerjaan selama Januari hingga April 2020 menemukan fakta bahwa jumlah iklan lowongan kerja di semua sektor bisnis mengalami penurunan. 


Jobs.id menjadi situs web pencarian lowongan kerja yang digunakan sebagai objek riset. Pada April 2020, jumlah iklan lowongan kerja di situs web tersebut menyusut menjadi 3.439 dibandingkan pada Maret 2020 sebanyak 11.090. Sementara jumlah perusahaan yang memasang iklan lowongan kerja turun sebesar 50%, dari yang pada Maret 2020 ada 502 perusahaan menjadi 235 perusahaan pada April 2020. Menurut Brand Activation Associate Manager Kalibrr—Andrew Nugraha Patty, masih ada kesempatan mendapat pekerjaan di tengah masa pandemi. Andrew membeberkan, dari Maret hingga Juni 2020 peluang bekerja di bidang penjualan dan pemasaran (sales and marketing) paling besar, mencapai 50,5%. Rinciannya, sebanyak 0,35% internship, 32,49% entry level, 65,14% associate, 1,98% mid senior dan 0,07% director. Ia menyebut, peluang lowongan pekerjaan di bidang IT dan software mencapai 13,4%, dengan rincian 2,92% internship, 37,92% entry level, 39,01% associate, 19,82% mid senior, dan 0,33% director.

Lalu, posisi berikutnya bidang pelayanan umum (general services) sebesar 11,5%, dengan rincian 32,44% internship, 66,56% entry level, 0,78% associate, 0,19% mid senior, dan 0,03% director. Andrew mengatakan, secara keseluruhan lowongan kerja yang dibuka untuk lulusan baru mencapai 54,2%. Posisi program officer development paling banyak dicari calon pekerja. Diikuti account officer, business analyst, social media officer, dan banking officer. Menurut Andrew, berdasarkan riset internal Kalibrr, sebesar 73% lowongan pekerjaan masih terpusat di Jakarta. Selanjutnya di Banten 6%, Jawa Timur 4%, Jawa Barat 3%, Jawa Tengah 2%, dan daerah lainnya 12%. Terkait jenjang pendidikan, Andrew menuturkan, sebesar 91% iklan lowongan pekerjaan yang tersedia di situs webnya menjadikan strata satu (S1) sebagai syarat utama. Berikutnya, diploma tiga (DIII) sebesar 5%, lulusan sekolah menengah atas (SMA) 4%, serta S2 dan S3 1%. Perusahaan skala startup dengan jumlah karyawan 0-30, kata Andrew, sebesar 15% merupakan lulusan S1 dan 27% lulusan SMA. Perusahaan small to medium-sized enterprises (SMEs) dengan 31-1.000 karyawan, kebutuhan menjadikan S1sebagai syarat utama mencapai 57%, SMA 50%, dan diploma 67%. Sementara perusahaan enterprise dengan jumlah lebih dari 1.000 karyawan terdapat 28% yang menjadikan S1 sebagai syarat utama, 39% S2, 100% S3, 24% diploma, dan 23% SMA. Pencari kerja mayoritas berasal dari Jakarta dengan jumlah 33%, lalu Jawa Barat 24%, Banten 10%, Jawa Timur 9%, dan Jawa Tengah 6%. Pekerja muda dan lulusan baru, kata Andrew, juga mendominasi pemakai situs web Kalibrr sebesar 41%. Lalu, magang 26%, mid-senior level manager 11%, dan director 1%. Secara umum, sebanyak 77% pengguna Kalibrr didominasi pencari kerja dengan tingkat pendidikan S1. Diikuti lulusan SMA/SMK dan diploma, masing-masing 10%.


Secara umum, pekerjaan itu ibarat jodoh. Kita tidak pernah tahu kapan, di mana dan seperti apa pekerjaan yang akan kita geluti di kemudian hari. Bukan rahasia lagi jika banyak sarjana yang setelah lulus kuliah malah bekerja bukan di bidang keilmuan yang ia pelajari. Misalnya ada sarjana pertanian yang bekerja di bank, atau ada pula sarjana teknik yang malah bekerja pada bidang personalia. Idealnya,  memang kita bekerja berdasarkan dari bidang keilmuan yang dipelajari, akan tetapi realita di lapangan ternyata lowongan kerja yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah lamaran yang masuk. Sehingga dalam hal ini terjadi surplus tenaga kerja, yang pada akhirnya banyak calon pekerja yang tidak terserap di bidang keilmuan yang ia pelajari. Oleh sebab itu mereka terpaksa mencari pekerjaan lain di luar bidang keilmuan yang dimiliki. Badan Pusat Statistik mencatat Tingkat Terbuka (TPT) per Februari 2019 ada di angka 5,01 persen dari tingkat partisipasi angkatan kerja Indonesia, jadi dalam hal ini ada sekitar 6,82 juta orang pengangguran di Indonesia. Pantas saja setiap ada Job Fair atau bursa kerja, peminatnya pasti membludak dari tahun ke tahun.


Upaya pemerintah dalam rangka menekan tingkat pengangguran memang telah dilakukan dengan berbagai macam cara, mulai dari mengadakan pelatihan bagi para lulusan sekolah, meningkatkan kualitas pendidikan hingga memberikan informasi mengenai lowongan kerja di luar negeri. Namun, sampai ini ternyata masalah pengangguran belumlah terselesaikan sepenuhnya.


Kenapa perusahaan begitu sulit untuk mendapatkan tenaga kerja? Salah satu faktor utamanya adalah dari lowongan kerja yang dibutuhkan, para pelamar tersebut berasal dari bidang keilmuan yang lain. Misalnya kami membutuhkan staf akunting, yang melamar sarjana ilmu manajemen ekonomi dan ilmu hukum. Selain itu ada pula, yang meminta gaji tinggi padahal masih fresh graduate yang skillnya belum terbukti dan teruji. Hal lain yang menjadi masalah utama adalah, banyak pekerja yang telah diterima bekerja tidak menunjukkan disiplin yang baik, malas serta tidak jujur. Meraka inilah sebenarnya merupakan salah satu penyakit di dalam organisasi perusahaan yang kalau tidak segera diobati, bisa menular kepada pekerja lainnya. Belum lagi menghadapi tipe pekerja kutu loncat, yang sebentar-sebentar keluar dari perusahaan untuk berpindah ke perusahaan yang lebih besar lagi. Jadi, sebenarnya yang namanya masalah ternyata akan selalu ada di manapun kita berada. Hanya bentuknya saja yang berbeda. 


Bagi pencari kerja, masalahnya adalah berbagai bentuk penolakan dari perusahaan yang kita lamar. Bagi perusahaan adalah sulitnya mencari pekerja yang tepat di posisi yang lowong. Bagi para pelamar sebaiknya melamar pada bidang keilmuan yang dimiliki, dan apabila telah diterima bekerja tunjukkanlah dedikasi yang baik, ulet, tekun, jujur, disiplin, rajin dan pantang menyerah, sehingga bisa diandalkan oleh atasan dan menjadi penggerak roda organisasi perusahaan. Bagi perusahaan, berilah gaji yang sesuai dan pantas, sehingga penghasilan yang didapat oleh pekerja tidak hanya cukup untuk membiayai kebutuhan hidup, akan tetapi ada kelebihan sehingga bisa ditabung. Selain itu, sediakanlah jenjang karir yang jelas, sehingga para pekerja bersemangat memperbaiki kualitas hasil pekerjaan, karena merasa yakin hidupnya akan lebih baik di masa depan bila bergabung dengan perusahaan.


Salah satu situs pencari lowongan kerja yang bisa dibuka saat ini juga adalah Jooble. Jooble hadir sebagai solusi, membantu Anda mendapatkan pekerjaan dengan mudah dan cepat. Jooble – situs penelusuran lowongan kerja. Kini telah berusia 13 tahun, Jooble tersedia di 71 negara dengan 24 bahasa. Di Jooble pengguna dapat menemukan lowongan kerja yang ada di dunia termasuk Indonesia. Jooble merupakan mesin telurus, sama halnya dengan Google atau Yandex namun berorientasi khusus pada pencarian lowongan kerja. Jooble tidak menyimpan semua informasi di dalam basis datanya sendiri. Jooble hanya bisa mencari informasi dan itu adalah hal yang jooble lakukan lebih baik daripada yang lain.


Pencarian dilakukan di antara semua portal dengan pekerjaan di Indonesia. Mesin telusur Jooble mencari posting lowongan kerja di segenap situs lowongan kerja utama di Indonesia. Jooble menyaring pos yang sama secara otomatis, sehingga lowongan yang serupa dari berbagai situs kerja diperlihatkan sebagai satu posting saja. Sambil menelusuri, silahkan perhatikan panel filter yang di layar kiri. Panel ini akan membantu menyaring hasil yang tidak diperlukan dari penelusuran lowongan kerja. Pengguna dapat menikmati fitur lengkapnya dari mulai menentukan lokasi, jenis pekerjaan, gaji dan lain sebagainya.


Di tengah pandemi yang menghadang dengan Jooble, temukan lowongan kerja yang Anda impikan !!!!

Link Jooble : https://id.jooble.org/


Silakan mampir juga ke blog saya yang pertama (tentang hewan, hukum, inovasi, manajemen, & sepak bola), kedua (tentang, kesehatan dan kemanusiaan, full text english), dan keempat (tentang hewan peliharaan). Semoga bermanfaat. Thx. Berikut link-nya:

Saturday, September 5, 2020

Lapor Meter Listrik, Tagihan Langsung Turun

Sebelum pandemi korona, tagihan listrik rumah saya (dengan daya 2200 VA) sekitar Rp. 280 ribuan per bulannya. Namun, sejak pandemi korona awal Maret 2020 dan bulan berikutnya, tagihan listrik rumah saya mengalami kenaikan dan meningkat terus tiap bulannya. Memang, ada andil pemakaian WFH dan peningkatan aktivitas pemakaian listrik di rumah akibat anjuran di rumah saja. Namun, jika naiknya sekitar Rp. 50 ribuan itu masih wajar. Ini kan lebih dari Rp. 100 ribu dan trennya selalu meningkat. Dua bulan terakhir saja, tagihan listrik mencapai Rp. 390 ribuan dan puncaknya bulan Agustus 2020 kemarin menembus Rp. 411 ribu😱. Tapi, menurut saudara itu sih masih mending, kalau di kota besar dengan daya yang lebih kecil misal 1300 VA, tagihan listrik bisa di atas Rp. 400 ribu. Sepertinya semakin besar kota berikut biaya hidupnya, maka tagihan listrik pun akan lebih besar🤔.

Tagihan Listrik Rumah Saya (2200 VA) Bulan Agustus 2020 (Kiri) Belum Dilakukan Pelaporan Meter Listrik Mandiri dan Bulan September 2020 (Kanan) Telah Dilakukan Pelaporan Meter Listrik Mandiri. Terlihat ada Selisih Cukup Besar. Klik Gambar agar Lebih Jelas🙏🏻

Tidak mau tagihan listrik bulan berikutnya semakin meningkat, maka saya mencari informasi sendiri dari berbagai sumber dan akhirnya diketahui akar masalahnya adalah tidak adanya petugas pencatat meter listrik yang datang ke rumah tiap bulan akibat pandemi korona dan harus segera melakukan pencatatan meter listrik mandiri untuk dikirim ke pihak PLN lewat WhatsApp (sosialisasi dari PLN dinilai kurang). Jika tidak dilakukan pelaporan meter listrik ke PLN, maka pihak PLN berhak menentukan tagihan listrik berdasarkan tagihan listrik 3 bulan terakhir walau menurut saya agak janggal juga, karena kok jika tidak lapor malah tagihan listrik jauh lebih mahal dari tagihan listrik bulan sebelumnya. Saya sempat berasumsi jika tidak dilakukan pelaporan meter listrik mandiri, pihak PLN berhak menentukan tarif dengan kenaikan sekian persen dan itu jelas merugikan konsumen.

Akhirnya, sekitar tanggal 24 Agustus 2020, saya melakukan pelaporan meter listrik meter listrik lewat Whatsapp (keterangan selengkapnya ada di foto kedua di bawah). Tinggal mengirimkan data ID pelanggan berikut foto meter listrik terakhir (foto buram tidak akan diterima). Setelah beberapa menit, ada chat balasan bahwa tagihan listrik rumah saya telah diverifikasi dan siap diterbitkan untuk bulan berikutnya (September 2020). Setelah saya cek awal bulan September 2020, tagihan listrik bulan 2020 mengalami penurunan cukup besar dari awalnya Rp. 411 ribu menjadi Rp. 367 ribu. Hal ini menjadi pelajaran buat pelanggan listrik PLN agar lebih aktif dan kritis (jangan mengandalkan sosialisasi dari PLN yang sangat kurang). Saat pandemi korona, petugas pencatatan meter listrik banyak yang tidak bertugas mengunjungi rumah pelanggan listrik PLN. Jadi, kitanya yang harus rajin melakukan pelaporan meter listrik PLN lewat WhatsApp rutin tiap bulan. Ini penting untuk mengantisipasi tagihan listrik yang naik seenaknya atau mungkin saja ada permainan dari oknum petugas pencatat meter listrik diduga untuk menutupi defisit keuangan dan utang besar PLN saat ini. Walau pemakaian listrik saat di rumah meningkat akibat WFH, seharusnya kenaikan listrik pun masih terbilang wajar dan terkendali, misal kenaikan berkisar Rp. 50 ribu. Sudah saatnya pelanggan harus lebih aktif, cerdas, dan kritis. Pelanggan pun dilindungi oleh Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999. Apalagi baru-baru ini Indonesia merayakan Hari Pelanggan Nasional pada tanggal 4 September 2020, yang berarti hak-hak pelanggan harus semakin diperhatikan. Pelaku usaha harus lebih transparan memberikan informasi, jangan bisanya hanya galak saat menuntut kewajiban pelanggan, apalagi yang telat bayar...



Pelaporan Meter Listrik secara Mandiri Menjadi Kewajiban jika Tidak Ingin Tagihan Listrik Naik Keterlaluan. Klik Gambar agar Lebih Jelas
 
Silakan mampir juga ke blog saya yang  pertama (tentang hewan, hukum, inovasi, manajemen, & sepak bola), kedua (tentang, kesehatan dan kemanusiaan, full text english), dan keempat (tentang hewan peliharaan). Semoga bermanfaat. Thx. Berikut link-nya:

Tuesday, June 23, 2020

New Normal, Tagihan Listrik Abnormal

Kehidupan new normal telah dimulai sejak bulan Juni 2020, memunculkan harapan baru sekaligus kekhawatiran baru. Harapan baru agar Indonesia maupun dunia segera bangkit dan bersatu mengatasi krisis global ini melalui pendekatan teknologi dan memperhatikan standar protokol kesehatan. Namun, kekhawatiran baru tetap ada akan ancaman serangan gelombang kedua, krisis ekonomi, dan krisis anggaran yang dialami pemerintah, sehingga mau tidak mau harus segera diatasi dan ujung-ujungnya dibebankan kepada rakyat. Salah satunya sektor listrik nasional...

Seakan ingin menyambut dan memeriahkan new normal, tagihan listrik pelanggan  bulan Juni 2020 mengalami kenaikan secara signifikan. Yang keterlaluan, ada rumah atau kantor kosong dibebankan tagihan listrik yang jumlahnya cukup besar. PLN sendiri ternyata menerapkan tagihan listrik minimal walaupun rumah atau kantor dalam keadaan tidak dipakai. Pemerintah sendiri dengan tegas menyatakan tidak ada kenaikan tarif listrik saat new normal. Jadi, kuncinya ada di pihak PLN yang terlihat tidak aktif dan transparan memberikan informasi yang jelas kepada pelanggannya dan tiba-tiba membebankan tagihan listrik. Kesannya menunggu komplain pelanggan...

Lalu, sebenarnya apa sih akar masalahnya?
1. Tidak ada pengecekan dari petugas pencatatan rekening listrik untuk bulan ini akibat terkendala PSBB, mengakibatkan terjadinya miskomunikasi dan tagihan listrik dihitung berdasarkan rata-rata tagihan 3 bulan sebelumnya. Kalau itu yang menjadi patokan, seharusnya tagihan listrik bulan Juni 2020 tidak naik secara signifikan dong?

2. Kekurangan pembayaran tagihan listrik bulan April 2020 (akibat keterbatasan petugas pencatatan saat PSBB) membuat tagihan dibebankan ke bulan Juni 2020

3. Saat PSBB, pemakaian listrik di rumah meningkat akibat work from home dan semua kegiatan yang menggunakan listrik terkonsentrasi di rumah. Memang ini membuat tagihan listrik akan meningkat, tapi seharusnya jumlahnya tidak terlalu signifikan. Maksimal Rp. 50 ribu masih bisa ditolerir. Ini kan naiknya lebih dari itu...

4. PLN rugi sekitar Rp. 38 triliun selama pandemi Covid-19, ditambah industri besar yang menjadi pelanggan potensialnya tutup sementara, sehingga dibutuhkan dana segar untuk menyelamatkan operasional PLN dengan membebankannya kepada pelanggan yang masih aktif. Namun, hal tersebut dibantah oleh Zulkifli Zaini, direktur utama PLN

5. PLN berutang sampai tembus Rp. 500 T😱, terutama akibat proyek listrik 35 ribu MW. Dengan utang yang sangat besar tersebut, mungkin saja PLN kebingungan, pemerintah angkat tangan, dan diam-diam dibebankan ke pelanggan walau kenaikan tarif listrik dibantah dirutnya

6. Adanya dugaan subsidi silang (pemerintah lepas tangan) untuk pelanggan 450 VA dan 900 VA. Semakin tinggi kebutuhan listrik pelanggan, maka semakin besar biaya subsidi silangnya. Hal tersebut lagi-lagi dibantah oleh dirut PLN.

Tagihan Listrik Rumah Saya Bulan Juni 2020 (Daya 2200 VA) Naik Signifikan Sekitar Rp. 100 Ribu Menjadi Rp. 372 Ribu. Bulan-Bulan Sebelumnya (Awal Pandemi) Total di Kisaran Rp. 273 Ribu-283 Ribu. Padahal Tarif Listrik Tidak Dinaikkan...Ada yang Aneh🤔
Solusi:
1. Komunikasi dari pihak PLN kepada pelanggan harus diperbaiki. Transparansi dan keterbukaan informasi, khususnya yang berkaitan dengan hak dan kewajiban pelanggan, serta apa yang terjadi dengan kinerja (khususnya keuangan) di tubuh PLN. Selama ini, komunikasi dan informasi cenderung sepihak dan kurang tersosialisasi dengan baik, baru ramai kalau sudah banyak yang komplain dari pelanggan. Dengan adanya kasus ini, kepercayaan publik terhadap PLN menurun

2. Informasi standar baku seperti besaran tagihan listrik minimal (ada atau tidak ada pemakaian) kurang tersosialisasi dengan baik. Kasus yang menimpa artis sekaligus dokter Tompi  dan pelanggan lainnya menjadi pembelajaran. Di samping itu, opsi pengiriman foto kWh oleh pelanggan sendiri sama sekali tidak tersosialisasikan dengan baik

3. Sarana aduan melalui Call PLN 123 dan  DM akun Twitter @pln_123 sebetulnya direspons dengan baik. Namun, terkadang tidak menyentuh akar masalah dan solusi terbaik, jadi sekedar formalitas, masalah umum, dan belum mendapatkan solusi terbaik

4. DPR harus lebih aktif dan ikut mengawal kinerja PLN, karena urusannya dengan hajat hidup rorang banyak. Tidak hanya sekedar memanggil dirut PLN dan meminta keterangan, tetapi juga menginvestigasi dan menindaklanjutinya dengan aksi nyata yang diharapkan rakyat. Jangan sampai dianggap sekedar formalitas saja. Solusi atas kinerja BPJS Kesehatan yang belum sesuai harapan rakyat setidaknya menjadi contoh

5. Tetap rajin mengirimkan foto meteran listrik ke PLN lewat WhatsApp setiap bulannya untuk mengantisipasi kenaikan listrik yang tidak terduga. Saya pun baru mencari info ini sendiri dan mulai mengirimkan foto meteran listrik ke PLN bulan Agustus 2020, dengan harapan tagihan listrik bulan September 2020 kembali turun

Klik Gambar Agar Lebih Jelas

6. Jika pelanggan tetap tidak puas dirugikan walau sudah kirim foto meteran listrik ke PLN, maka pelanggan bisa memanfaatkan jalur hukum dan mengadukannya, salah satunya lewat Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Menurut Tulus Abadi, Ketua Harian YLKI, komunikasi yang kurang dari pihak PLN bisa melanggar pasal 4 Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 199, di mana dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa konsumen berhak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur.

Semoga saja ada evaluasi terhadap kinerja PLN, lalu PLN lebih peka terhadap situasi yang ada, dan tagihan listrik pelanggan mulai bulan Juli 2020 kembali normal. Dan jangan lupa, tetap rutin mengirimkan foto meteran listrik ke PLN tiap bulannya😇.

Silakan mampir juga ke blog saya yang pertama (tentang hewan, hukum, inovasi, manajemen, & sepak bola), kedua (tentang, kesehatan dan kemanusiaan, full text english), dan keempat (tentang hewan peliharaan). Semoga bermanfaat. Thx. Berikut link-nya:

Wednesday, March 18, 2020

Virus Korona dan Pasokan Listrik Nasional

Kasus penyebaran virus korona di Indonesia sampai tanggal 18 Maret 2020:
1. Positif: 172 orang
2. Negatif: 1083 orang
3. Sembuh: 9 orang
4. Meninggal: 7 orang
(sumber: LINE Indonesia)

Tentunya hal tersebut membuat kita prihatin dan imbasnya dikhawatirkan memengaruhi berbagai sektor, salah satu di antaranya adalah pasokan listrik nasional. Apakah benar?

1. Pasokan listrik sehari-hari ke rumah warga dan pelanggan lainnya sejauh ini aman
- Direktur utama Perusahaan Listrik Negara (PLN), Zulkifli Zaini, menyatakan bahwa pihaknya akan bersiaga untuk memastikan pasokan listrik normal seperti biasa mengingat hal tersebut merupakan kebutuhan utama
- Untuk itu, karyawan PLN pun harus fokus bertugas, sehat, dan tidak boleh ada yang ke luar negeri
- Hal ini dibarengi dengan langkah pencegahan virus korona berikut tes kesehatan karyawan di setiap kantor PLN agar karyawan dapat bekerja optimal. Tidak hanya berlaku bagi karyawan PLN, tetapi juga keluarga mereka dan pelanggan (sumber: news.detik.com)
- Interaksi sesama karyawan maupun dengan pihak luar seperti pelanggan diminimalisir dengan adanya sistem online
- Walaupun pasokan listrik dipastikan aman, namun setiap pelanggan listrik hendaknya menggunakan listrik secara hemat dan bijak

2. Yang menjadi kendala adalah tertundanya beberapa proyek pembangkit listrik. Mengapa bisa tertunda?
 - Bahan baku, peralatan, teknologi, bahkan tenaga kerjanya sebagian diimpor dari negara Tiongkok, Korea Selatan, dan Eropa. Tentunya yang paling dikhawatirkan adalah kondisi kesehatan tenaga kerja yang diimpor dari Tiongkok, Korea Selatan, dan Eropa
- Padahal, pembangkit listrik sangat diperlukan di masa depan agar listrik tidak hanya bergantung pada satu sumber saja (kini masih mengandalkan energi fosil). Untungnya, saat ini Indonesia tidak dalam keadaan krisis listrik
- Prediksi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bahwa delay maksimal sampai 6 bulan saja
 (sumber: https://katadata.co,id)

Sumber: Minews ID & www.pln.co.id
3. PLN harus mewaspadai gangguan pertumbuhan ekonomi dan industri di Indonesia akibat virus korona yang bisa menurunkan serapan listrik. Jika itu terjadi, dikhawatirkan pasokan listrik menjadi berlebihan (over supply) dan itu pemborosan. Hal tersebut diungkapkan oleh Iwa Garniwa, pengamat energi Universitas Indonesia. Jadi, PLN harus menganalisis sektor-sektor yang khususnya berkaitan langsung dengan permintaan listrik yang tinggi di saat kondisi normal (sebelum wabah virus korona) dan kondisi darurat seperti saat ini

4. Perlu ada manajemen mitigasi khusus pasokan listrik dan penjadwalan proyek pembangkit listrik. Wabah virus korona dianggap sebagai kondisi di luar kemampuan manusia (force majeure) dan perlu solusi yang tepat untuk menanganinya.

Walaupun pasokan listrik nasional dipastikan aman, tapi setiap saja warga pelanggan listrik harus memiliki kesadaran untuk bertindak hemat dan bijak dalam penggunaan listrik agar ketersediaan listrik nasional tetap terjaga serta siap mengantisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di luar kemampuan manusia. Masih ingat kasus Blackout PLN: Akar Masalah dan Solusi akibat force majeure? Semoga saja tidak terjadi dan pasokan listrik tetap aman😇.

Silakan mampir juga ke blog saya yang pertama (tentang hewan, hukum, inovasi, manajemen, & sepak bola), kedua (tentang, kesehatan dan kemanusiaan, full text english), ketiga (tentang masalah dan solusi kelistrikan), dan keempat (tentang hewan peliharaan). Semoga bermanfaat. Thx. Berikut link-nya:

Monday, January 13, 2020

Solusi Mengatasi Bahaya Listrik saat Banjir

Musibah banjir pada libur tahun baru 2020 yang melanda wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat tidak hanya menimbulkan kerugian harta benda, tapi juga korban jiwa. Yang lebih memilukan, seorang ibu di Bekasi tewas tersetrum tiang listrik bekas terendam listrik. Diduga korban tidak sengaja memegang tiang listrik yang korslet akibat banjir (sumber: liputan 6.com). Dalam hal ini, tidak ada yang bisa dituntut karena kejadian tersebut di luar kuasa manusia (force majeure).

Banjir di Kota Bogor. Sumber: Foto Kiriman Saudara di Bogor
Saat terjadi banjir, memang salah satu yang harus diwaspadai adalah bahaya listrik yang secara tidak terduga dapat mengalir lewat air bekas banjir walau banjir sudah surut sekalipun. Lalu, bagaimana solusinya agar nasib nahas yang menimpa seorang ibu di Bekasi tidak terulang?
1. Ketika banjir parah datang, langsung matikan instalasi kelistrikan di rumah (sakelar MCB pusat dimatikan). Walau PLN akan mematikan jaringan listrik di daerah terdampak banjir parah, tapi tetap instalasi listrik rumah harus diamankan terlebih dahulu, untuk berjaga-jaga PLN telat mematikan jaringan listrik. Untuk selanjutnya, tunggu instruksi dari pihak PLN kapan untuk menyalakan instalasi listrik rumah

2. Amankan semua barang elektronik (sudah tidak teraliri listrik) ke tempat yang lebih aman (tempat yang lebih tinggi). Biasanya, yang diprioritaskan adalah yang mudah diangkat oleh manusia seperti handphone beserta charger-nya, televisi (yang layar datar), PC, laptop, console game, radio, rice cooker, microwave, setrika, pengering rambut, kipas angin, dan sebagainya. Yang harus diingat adalah jika barang elektronik tidak terselamatkan (terendam banjir), jangan sekali-kali menggunakan alat elektronik tersebut (walau sekedar dicek/diperbaiki) sampai benar-benar kering. Karena jika itu dilanggar maka barang elektronik bisa korslet dan yang memegangnya bisa tersetrum listrik. Jika ragu-ragu, panggil teknisi handal

3. Segera selamatkan kendaraan bermotor ke tempat yang aman. Jika tidak terselamatkan (terendam banjir), sempatkan untuk mencopot aki mobil mengingat listrik masih ada walau kontak sudah mati. Sama dengan barang elektronik, jangan menyalakan kendaraan sebelum dipastikan benar-benar kering (karena rawan korsleting dan membahayakan pengemudi) atau jika ragu hubungi teknisi. Biasanya yang paling dikhawatirkan adalah kerusakan ECU (Electronic Control Unit), berfungsi untuk melakukan optimasi kinerja mesin kendaraan. Dianalogikan sebagai otak kalau di manusia

4. Tidak menyentuh tiang listrik yang baru saja terendam banjir, apalagi masih terendam banjir. Jika masih terjadi hujan, kemungkinan tiang listrik teraliri listrik masih ada walau jaringan listrik baru saja dimatikan

5. Waspada sambaran petir. Jika ada badai petir, hindari lapangan terbuka, tiang listrik, persawahan, dan pepohonan. Cari tempat berlindung yang aman (seperti di dalam rumah warga, gedung, dan aula) serta terbebas dari banjir. Pada hakikatnya petir adalah listrik berkekuatan tinggi. Manusia adalah medium yang baik untuk sambaran petir, apalagi jika badan basah
 
6. Hubungi PLN (nomor telepon 123 atau mengakses PLN mobile di Android atau iOS) jika jaringan listrik di daerah terdampak banjir parah masih menyala. Adanya korban tewas tersetrum tiang listrik saat banjir parah menjadi bukti bahwa kemampuan PLN terbatas (walau sudah dilakukan patroli), tidak mengetahui di daerah korban tewas mengalami banjir parah, dan jaringan listrik terlambat dimatikan. Untuk itu, bantuan informasi dari masyarakat di daerah banjir parah sangat diperlukan

7. Penormalan listrik dilakukan setelah banjir surut, instalasi listrik kering, dan ada penandatanganan berita acara yang disaksikan Ketua RT/RW/tokoh masyarakat setempat (sumber: financedetik.com)

8. Selalu waspada, berdoa, dan mencari informasi dari sumber yang terpercaya.

Demikian artikel saya, semoga kita semakin aware terhadap bahaya listrik saat terjadi bencana alam seperti banjir parah dan mengetahui solusinya. PLN bukan segalanya, jangkauannya terbatas dan tetap membutuhkan info penting dari masyarakat setempat yang terdampak banjir parah. Memang pemerintah sedang berupaya melakukan modifikasi curah hujan agar tidak berlebih, tapi tetap saja potensi curah hujan yang tinggi masih ada. Puncak musim hujan tahun 2020 menurut BMKG adalah bulan Februari. Semoga Allah Swt senantiasa melindungi kita dari berbagai macam bencana. Aamiin😇.

Silakan mampir juga ke blog saya yang kedua (tentang kesehatan dan kemanusiaan, full text english), ketiga (tentang masalah dan solusi kelistrikan), dan keempat (tentang hewan peliharaan). Semoga bermanfaat. Thx. Berikut link-nya:

Monday, December 2, 2019

Perlunya Memasang Penangkal Petir di Rumah yang Tidak Bertingkat

Sebelumnya, mungkin ada yang bertanya, mengapa topik penangkal petir dimasukkan ke dalam blog kelistrikan ini? Karena melihat fungsinya, penangkal petir merupakan alat penghantar listrik yang baik untuk menghantarkan listrik berkekuatan besar (dari petir yang menyambar) ke tempat yang aman di dalam tanah. Petir sendiri merupakan jenis arus listrik searah atau Direct Current (DC). Penangkal petir berfungsi sebagai pengaman untuk mencegah sambaran petir ke arah rumah, kabel, dan barang elektronik di dalam rumah. Jadi, penangkal petir berperan mengalihkan sambaran petir dari penghantar baik lainnya seperti pohon yang tinggi, lapangan terbuka, pesawahan luas, kendaraan tanpa atap, logam, barang elektronik yang teraliri listrik, kabel telepon, wifi, cctv, dan bahkan manusia😱. Mengapa manusia penghantar listrik yang baik? karena tubuh manusia pun mengandung listrik, dihantarkan oleh cairan tubuh seperti darah. Tapi, bukan berarti mentang-mentang sudah memasang penangkal petir, saat badai petir malah internetan menggunakan laptop dengan posisi charger terpasang di stop kontak, baiknya disetop dulu sampai badai petir hilang. Jadi, melihat penjelasan tadi, jelas penangkal petir berkaitan dengan listrik kan😁.

Badai petir cukup sering muncul saat musim hujan, tapi bakal lebih sering muncul saat musim peralihan, baik dari musim kemarau ke penghujan maupun sebaliknya. Tapi, biasanya yang lebih dahsyat justru peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan. Durasi musim peralihan biasanya sebulan. Ciri khasnya adalah saat siang terik, sore berubah seketika hujan disertai badai petir dan angin kencang. Atau seharian cuaca cerah, tiba-tiba malam badai petir dengan suara yang menggelegar dan dengan durasi yang cukup lama, lalu baru turun hujan yang terkadang hanya gerimis saja.

Selama ini, ada pendapat bahwa penangkal petir rumahan  hanya diperlukan untuk rumah bertingkat saja. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar, karena ada kondisi rumah yang tidak bertingkat pun memerlukan penangkal petir. Contohnya di rumah yang berada di sekitar pesawahan luas atau rumah saya yang bersebelahan langsung dengan lapangan sepak bola. Petir beberapa kali menyambar kabel telepon, internet, dan bahkan merusak charger laptop. Beruntung, tidak sampai membahayakan nyawa.  Setelah beberapa kejadian tersebut, akhirnya diputuskan memasang 2 penangkal petir sekitar beberapa tahun yang lalu, satu dipasang di samping atas dan satu lagi di tengah atas. Biaya pemasangan sekitar Rp. 1 juta rupiah (termasuk ongkos pasang). Itu di luar makan siang, minum, dan rokok.

Memang pemasangan penangkal petir diserahkan kepada ahlinya. Namun, dalam beberapa kondisi, pemilik rumah tetap wajib megetahui dasar-dasar pemasangan dan perawatan penangkal petir agar berfungsi optimal. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah:
1. Jenis penangkal petir
- Penangkal petir konvensional, seperti yang biasa digunakan di rumah-rumah dan  menara (ujungnya runcing). Harganya sekitar Rp. 1 jutaan lebih sekali pasang (2 penangkal petir)
- Penangkal petir elektrostatis atau radius, hanya untuk gedung besar bertingkat. Harganya jauh lebih mahal daripada penangkal petir konvensional, bisa mencapai Rp. 50 juta rupiah
(sumber: 99.co)

2. Batang penangkal petir harus berbentuk runcing
- Batang penangkal petir harus berbentuk runcing (dibuat dari batang logam tembaga) karena muatan listrik besar seperti sambaran petir memiliki sifat mudah berkumpul dan akan lepas jika ujungnya logam runcing (berada di posisi puncak)
- Khusus penangkal petir elektrostatis ujung penangkal petir terlihat lebih besar, lebar, dan berbentuk seperti payung
- Dengan demikian, akan mempermudah proses tarik-menarik dengan muatan listrik yang ada di awan (sumber: wikipedia)

3. Penangkal petir harus terbuat dari bahan yang berkualitas, sesuai peruntukannya (seperti tembaga dan aluminium), dan dilapisi bahan anti korosi (sumber: https://penangkalpetir.biz.id)

4. Penempatan penangkal petir
- Untuk penangkal petir rumahan, biasanya diletakkan di tengah atas rumah samping atas rumah, sedangkan untuk gedung besar bertingkat dipasang lebih dari dua
- Pastikan penangkal petir tidak terhalang oleh pohon. Jika diperlukan, pangkas saja pohon yang menghalangi penangkal petir agar penangkal petir berfungsi optimal dan tidak menyambar ke pohon
Penangkal Petir Tepat di Tengah Atas Rumah Saya

Penangkal Petir juga dipasang di Samping Atas Rumah Saya
5. Terminal Grounding
- Grounding berfungsi mengalirkan sambaran petir ke dalam tanah sehingga barang elektronik yang teraliri listrik tetap aman
- Menggunakan pipa tembaga dengan panjang 4 meteran dan diameter 0,5 inci (1,27 cm)
- Awan petir memiliki muatan listrik negatif, sedangkan tanah memiliki muatan positif (peredam)

6. Pastikan pemasangan benar dan dilakukan oleh ahlinya, jika sampai salah pasang bisa menjadi senjata makan tuan, sambaran petir malah semakin mendekati dan merusak barang sekitar, bahkan membahayakan penghuninya

7. Perawatan berkala penangkal petir
- Idealnya dilakukan tiap tahun saat musim kemarau
- Perhatikan jaringan kawat penghantar apa ada yang putus?
- Apakah ada bahan penangkal petir yang berkarat?
- Pangkas pohon yang menghalangi keberadaan penangkal petir, apalagi posisi pohon lebih tinggi dari penangkal petir

Demikian artikel saya, sudah seharusnyalah kita lebih aware terhadap bahaya sambaran petir, tidak hanya merusak bangunan dan barang elektronik yang teraliri listrik, tapi juga membahayakan nyawa manusia. Penangkal petir menjadi solusi terbaik bagi kita yang tinggal di daerah yang rawan tersambar petir.

Silakan mampir juga ke blog saya yang kedua (tentang kesehatan dan kemanusiaan, full text english), ketiga (tentang masalah dan solusi kelistrikan), dan keempat (tentang hewan peliharaan). Semoga bermanfaat. Thx. Berikut link-nya:
Blog 1: vickycahyagi.com

Sunday, September 1, 2019

Blackout PLN: Akar Masalah dan Solusi

Blackout (pemadaman listrik) massal yang terjadi di Pulai Jawa pada hari Minggu, 4 Agustus 2019 bukanlah pemadaman listrik bergilir biasa yang hanya sebentar dan biasanya diumumkan sebelumnya di media cetak. Tapi, pemadaman listrik ini menjadi kasus nasional karena terjadi lebih dari 2 jam, tanpa pemberitahuan, wilayah pemadamannya luas, & merugikan banyak pihak. Akibatnya, banyak pihak yang dirugikan, mulai dari yang jualan (terutama pelaku UMKM), traffic light mati, hajatan terganggu, industri merugi, layanan transportasi massal terhenti, pelayanan publik terhambat, provider bermasalah (saya sendiri kecewa sinyal WiFi mati, otomatis menggunakan data seluler ternyata sama juga bermasalah, & tahu-tahu pulsa tersedot Rp. 7 ribu), dan yang terparah terjadi kebakaran saat padam listrik dan menimbulkan korban jiwa😪). Walaupun ada juga yang diuntungkan seperti pengelola mal (ada genset) yang menjadi pelarian utama konsumen PLN yang dirugikan dan berdampak positif mengurangi polusi udara secara siginifikan, terutama di Jakarta😇.

Lalu, apa sih akar masalahnya? Ada 2 versi:
a. Menurut pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN), gangguan transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV di Ungaran dan Pemalang, Jawa Tengah. Bahkan transmisi tersebut diketahui warga sekitar meledak sebelum listrik padam (sumber: medcom.id dan tirto.id). Celakanya, gangguan tersebut merembet ke daerah lain di Pulau Jawa
b. Menurut Polri, penyebabnya ada pohon yang diduga melebihi batas ketinggian dari yang telah ditetapkan. Pohon tersebut mengakibatkan lompatan listrik. Pendapat ini diperkuat oleh mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, bahwa keberadaan pohon sengon yang terlalu besar, lalu menyenggol transmisi tersebut (sumber: tribunnews.com dan finance.detik.com). Pohon sengon merupakan pohon mahal dengan kualitas unggul, harganya bisa mencapai Rp. 1 juta per meter kubik😱, belum lagi perawatannya yang ribet dan membutuhkan biaya yang tidak murah.

Di samping itu, ada penyebab yang jadi akar masalah juga namun bersifat tidak langsung, yaitu masalah internal PLN:
a. kasus korupsi direktur utama (dirut) PLN Sofyan Basir kemungkinan mengganggu kinerja PLN dan bisa saja membuat pengadaan anggaran untuk maintenance menjadi terhambat
b. Sempat ada kevakuman kepemimpinan bisa saja menyebabkan krisis manajerial di tubuh PLN
c. Dilanjutkan pelantikan Plt dirut PLN Sripeni Intan Cahyani yang masih beradaptasi dan tampak belum siap memimpin PLN, mengakibatkan kinerja PLN menjadi tidak optimal. Dan beliau pun menjadi viral akibat kejadian blackout massal di Pulau Jawa.

Dari masalah internal saja, PLN memang wajib diaudit, KPK pun bisa masuk ke situ, apakah kasus korupsi sang dirut merembet ke anak buahnya atau tidak? Atau memang ada masalah anggaran perusahaan juga sehingga anggaran untuk maintenance bukan menjadi prioritas.

Diperlukan solusi melalui terobosan yang benar-benar baru (inovasi) untuk meminimalisir kasus blackout dan mengupayakan untuk tidak hanya mengandalkan satu sumber listrik.
Sumber: plnmmu.com
Lalu, apa saja solusi yang harus dilakukan PLN ke depannya?
1. Komunikasi dua arah antara pihak PLN dan pelanggan harus ditingkatkan (inisiatif baiknya dari pihak PLN). Misal terkait edukasi penghematan listrik dan sosialisasi terkait regulasi (ini masih kurang). Penghematan listrik memang harus dilakukan dan berbanding lurus dengan ketersediaan pasokan listrik, terutama saat musim kemarau. Sementara sosialisasi terkait regulasi berkaitan dengan hukum yang berkaitan dengan kelistrikan.

2. PLN harus menyediakan anggaran khusus untuk pengembangan energi alternatif untuk listrik. Jangan hanya mengandalkan debit air pada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang bisa saja bermasalah terutama saat musim kemarau walau sudah dilakukan penghematan. Dalam skala nasional, PLN mesti ikut mendukung dan terwujudnya pembangkit tenaga nuklir yang terus mengalami polemik.

3. Energi alternatif ramah lingkungan juga mesti banyak diciptakan, terutama di wilayah potensial dan yang sudah terjangkau instalasi listrik PLN. Sumber energi tersebut misalnya mikrohidro, angin, gelombang, bioetanol, panas matahari, panas bumi, dan sebagainya. PLN sendiri pasca blackout mulai memperkenalkan inovasi untuk sumber listrik cadangan transportasi massal MRT berupa Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang rencananya dioperasikan bulan Oktober 2019. PLTD dapat beroperasi 8-10 jam dengan bahan bakar penuh. Semoga saja inovasi PLN tidak berhenti di situ dan meliputi sumber energi serta teknologi lainnya. Tentunya PLN harus mau membuka diri dan bekerja sama dengan para pemangku kepentingan lainnya demi kualitas pasokan listrik yang lebih baik.
(Sumber: Ribut Lupiyanto, Koran Pikiran Rakyat tanggal 7 Agustus 2019 dan website m.riau.co tanggal 8 Agustus 2019).

4. Anggaran untuk maintenance harus dievaluasi agar lebih memperhatikan hal-hal yang dianggap sepele, seperti perawatan pohon sengon yang tumbuh di sekitar transmisi SUTET. Pertumbuhan pohon sengon harus dipantau secara berkala (ada pemangkasan) agar tidak terlalu besar dan tidak menimpa transmisi SUTET.

5. Manajemen tanggap darurat yang ada di PLN sudah sepatutnya dievaluasi. Ketika terjadi blackout massal kembali, pihak berwenang dari PLN bisa lebih sigap mengatasinya. Setidaknya membuat konsumen memaklumi permasalahan yang terjadi, tidak seperti blackout massal 4 Agustus lalu, yang membuat konsumen geram, dirugikan, dan habis kesabaran.

6. Monopoli (penguasaan obyek oleh satu perusahaan) pengelolaan listrik oleh PLN hendaknya dievaluasi. Monopoli hanya membuat pihak lain seperti swasta tidak bisa masuk, membantu, dan bekerja sama dengan PLN karena takut dihukum. Ke depannya monopoli harus dihapuskan agar PLN dapat membuka diri dengan pihak lain. Perlu ada peran swasta untuk bekerja sama melengkapi kekurangan di tubuh PLN. Perlu juga kompetitor untuk mengingatkan kinerja PLN. Inovasi dan teknologi (termasuk bidang kelistrikan) akan berkembang jika tidak dimonopoli.
(Sumber: Yupiter Gulo, Kompasiana).

Setiap Ada Masalah yang Lagi Viral, Di Situlah Muncul Meme/Lelucon Bergambar🤪. Klik Gambar Agar Lebih Jelas Tulisannya.
Demikian artikel saya, semoga ke depannya PLN bisa lebih profesional, banyak berinovasi, dan sigap mengatasi masalah. Bagi pemerintah, saatnya monopoli listrik oleh PLN dihapuskan karena lebih banyak kerugiannya, terutama bagi rakyat.

Silakan mampir juga ke blog saya yang kedua (tentang, dan kemanusiaan, full text english) dan ketiga (tentang masalah dan solusi kelistrikan). Semoga bermanfaat. Thx. Berikut link-nya:
Blog 1: vicagi.blogspot.com


Sunday, July 21, 2019

Evaluasi Instalasi Listrik Pasar Tradisional di Indonesia

Di awal musim kemarau 2019, telah terjadi banyak kebakaran yang melibatkan pasar tradisional di Indonesia. Di Bandung saja, ada 5 pasar tradisional yang mengalami kebakaran, seperti Pasar Ujungberung, Pasar Kosambi, Pasar Gedebage, Pasar Kiaracondong, dan Pasar Sederhana. Di kota lain pun nasibnya serupa, misal di Pasar Manonda Kota Palu (sumber: Koran Pikiran Rakyat 6 Juli 2019 dan https://sultengterkini.com). Setidaknya, keberadaan pasar tradisional di dua kota tersebut menjadi gambaran memang begitu adanya kondisi pasar tradisional secara umum di Indonesia.

Akar Masalah
Kebakaran yang terjadi pada banyak pasar tradisional di Indonesia umumnya diakibatkan korsleting listrik. Potensi korsleting listrik semakin besar karena didukung:
- Instalasi listrik yang sudah usang dan tidak dirawat secara berkala oleh ahlinya. Dengan demikian kabel terkelupas penyebab awal korsleting sulit terdeteksi
- Gigitan tikus terhadap kabel listrik yang usang (kabel zaman dulu tipis & belum ada pengaman dari gigitan tikus seperti kabel zaman sekarang)
- Pemasangan listrik tambahan oleh pedagang yang kurang mengerti kelistrikan (belajar otodidak) untuk kepentingan pribadi justru memperburuk kualitas instalasi listrik
- Perilaku oknum warga seperti membuang rokok sembarangan, padahal masih menyala, hal tersebut dikhawatirkan dapat merembet cepat ke benda yang mudah terbakar
- Cuaca. Potensi kebakaran saat musim kemarau lebih tinggi dari musim penghujan. Hal ini akibat panas terik matahari, tiupan angin kencang, dan keterbatasan air berpotensi meningkatkan risiko kebakaran saat terjadi korsleting listrik. Belum lagi sampah daun kering yang berserakan, baik di halaman maupun di atap pasar menjadi perantara yang baik bagi api😱.
Instalasi Listrik Pasar Tradisional yang Kacau Balau. Dari Segi Estetika pun Tidak Enak Dilihat. Sumber: sigap88news.com
Solusi
1. Semua pemangku kepentingan (stakeholder), mulai dari pedagang pasar, pengelola pasar, PLN, pemerintah setempat, petugas kebersihan pasar, petugas pemadam kebakaran, bahkan konsumen langganan pasar harus mulai peduli tentang keamanan listrik pasar. Dalam hal ini:
- Pedagang pasar harus diberikan pelatihan khusus tentang kelistrikan sehingga tidak asal memasang listrik tambahan dan ikut memlihara instalasi listrik. Di samping itu, pedagang pasar harus mengetahui SOP dan jalur evakuasi saat terjadi korsleting listrik dan kebakaran, bukan malah ikut-ikutan panik bersama konsumen😛
- Pasar wajib memilki APAR (Alat Pemadam Api Ringan) dan saat darurat bisa dioperasikan oleh pedagang terdekat. Banyak keluhan APAR sudah tersedia tapi hilang dicuri orang. Untuk itu, perlu pengamanan yang lebih baik untuk APAR. Misal, APAR (ukuran kecil) menjadi standar peralatan yang harus dimiliki setiap pemilik kios. Sehingga, ada kesadaran juga dari pemilik kios untuk merawat APAR dan tentu saja bisa mengoperasikannya saat darurat

Sumber: https://servo.id/apar/
- Pengawasan terhadap instalasi listrik dan penggunaan listrik pasar wajib dilakukan oleh pengelola pasar dan PLN. Perlu diperiksa kualitas kabel listrik dan penggunaan beban listrik apakah ada beban listrik tambahan?
- Pemeriksaan berkala instalasi listrik pasar oleh PLN
- Pemerintah setempat harus mengevaluasi izin kelayakan pembangunan pasar, tata ruang, jalur evakuasi, SOP jika terjadi korsleting dan kebakaran, serta akses jalan di sekitar pasar, sehingga tidak menjadi masalah baru bagi petugas pemadam kebakaran ketika terjadi kebakaran di pasar. Ini yang dirasa masih kurang
-  Petugas kebersihan pasar harus mewaspadai dan membersihkan sampah kering yang berserakan di sekitar pasar bahkan di atap pasar. Karena sampah tersebut menjadi perantara yang baik bagi api jika terjadi korsleting. Di samping itu juga puntung rokok yang masih menyala, korek api, parfum, dan barang yang bisa menimbulkan percikan api lainnya
- Pemadam kebakaran juga harus mempelajari peta rawan kebakaran pasar, termasuk akses, waktu tempuh, dan ketersedian air
- Konsumen langganan pasar juga harus ikut peduli dan mengamati keadaan pasar langganannya. Hal ini menjadi kontrol sosial yang ampuh bagi pasar itu sendiri.

2. Instalasi listrik idealnya harus diganti tiap 20 tahun 
- Hal utama yang harus diperhatikan adalah kabel yang sudah terkelupas. Bagaimanapun jenis kabel zaman dulu cenderung tipis, rawan terkelupas (terutama akibat gigitan tikus). Berbeda dengan kabel zaman sekarang yang sudah tebal, berlapis, dan memiliki zat anti gigitan tikus. Membiarkan kabel terkelupas berarti menunggu terjadinya korsleting listrik akibat kontak langsung dengan air misalnya
- Hindari pemakaian kabel bertumpuk pada satu sumber listrik untuk meminimalisir korsleting listrik
- Untuk pengecekan instalasi listrik idealnya dilakukan tiap tahun
- Perangkat yang digunakan untuk instalasi listrik harus sudah bersertifikat (SNI) dan orisinil
(sumber: metro.sindonews.com).

3. Idealnya satu kios pasar satu meteran listrik, sehingga saat terjadi korsleting listrik di satu kios tersebut langsung terdeteksi, terputus (ada kontrol meternya), dan tidak merembet ke kios-kios lainnya

4. Pedagang pasar tradisional perlu dilindungi asuransi kebakaran. Kendalanya menurut banyak para pedagang pasar tradisional adalah biaya (premi) yang tinggi dan prosedur yang ribet. Untuk itu, ke depannya perlu edukasi, premi yang terjangkau (jika diperlukan ada subsidi), dan prosedur yang lebih simpel.
   
Demikian artikel ini saya buat. Memang, perawatan instalasi listrik berikut SOP jika terjadi korsleting listrik membutuhkan anggaran yang besar. Mungkin, anggaran dari pengelola pasar, pemerintah setempat, dan pihak berwenang lainnya belum tersedia untuk mengurus semua hal tersebut. Tapi, perhatikan dampak buruknya, jika sampai terjadi korsleting listrik dan kebakaran, bukankah kerugiannya jauh lebih besar? Semoga saja dievaluasi ke depannya...
 
Silakan mampir juga ke blog saya yang pertama (tentang hewan, inovasi, hukum, manajemen, & sepak bola) dan kedua (tentang kesehatan & kemanusiaan, full text english). Semoga bermanfaat. Thx. Berikut link-nya: